OUP user menu

A hog-nosed shrew rat (Rodentia: Muridae) from Sulawesi Island, Indonesia

Jacob A. Esselstyn, Anang S. Achmadi, Heru Handika, Kevin C. Rowe
DOI: http://dx.doi.org/10.1093/jmammal/gyv093 895-907 First published online: 29 September 2015

Abstract

We document a new genus and species of shrew rat from the north peninsula of Sulawesi Island, Indonesia. The new taxon is known only from the type locality at 1,600 m elevation on Mt. Dako, in the district of Tolitoli. It is distinguished from all other Indonesian murines by its large, flat, pink nose with forward-facing nares. Relative to other Sulawesi murines, the species has extremely large ears (~ 21% of head and body length), very long urogenital hairs, prominent and medially bowing hamular processes on the pterygoid bones, extremely long and procumbent lower incisors, and unusually long articular surfaces on the mandibular condyles. Morphologically, the new taxon is most similar to a group of endemic Sulawesi rats known commonly as “shrew rats.” These are long faced, carnivorous murines, and include the genera Echiothrix, Melasmothrix, Paucidentomys, Sommeromys, and Tateomys. Our Bayesian and likelihood analyses of DNA sequences concatenated from 5 unlinked loci infer the new shrew rat as sister to a clade consisting of Melasmothrix, Paucidentomys, and Echiothrix, suggesting that Sulawesi shrew rats represent a clade. The Sulawesi water rat, Waiomys mamasae, was sister to the shrew rats in our analyses. Discovery of this new genus and species brings known shrew rat diversity on Sulawesi to 6 genera and 8 species. The extent of morphological diversity among these animals is remarkable considering the small number of species currently known.

Kami mendokumentasikan genus dan spesies baru tikus cucurut dari bagian semenanjung utara pulau Sulawesi, Indonesia. Takson baru ini hanya diketahui dari lokasi spesimen tipe pada ketinggian 1,600 mdpl di Gunung Dako, Kabupaten Tolitoli. Ia dibedakan dari spesies tikus Indonesia lainnya berdasarkan ukuran hidung yang besar, datar, berwarna merah muda dengan moncong hidung menghadap ke arah depan. Jika dibandingkan dengan spesies tikus Sulawesi lainnya, spesies ini memiliki telinga yang sangat besar (~ 21% dari panjang kepala dan badan), rambut urogenital yang sangat panjang, prosesus hamular yang jelas dan menonjol pada pertulangan pterygoid, gigi seri bagian bawah yang sangat panjang, dan penampang persendian yang panjang dan tidak biasa pada kondilus mandibula. Secara morfologi, takson ini lebih mirip dengan kelompok tikus endemik Sulawesi yang umumnya dikenal sebagai “tikus cucurut”. Kelompok ini dicirikan dengan mulut yang panjang, pemakan daging, dan termasuk didalamnya adalah genus Echiothrix, Melasmothrix, Paucidentomys, Sommeromys, dan Tateomys. Analisis Bayesian dan likelihood menggunakan sambungan sekuens DNA dari 5 lokus yang tidak terpaut menunjukkan spesies tikus cucurut baru ini berkerabat dekat dengan kelompok yang terdiri dari Melasmothrix, Paucidentomys, dan Echiothrix, memberi kesan tikus cucurut Sulawesi merepresentasikan suatu clade atau kelompok tersendiri. Tikus air Sulawesi, Waiomys mamasae, diketahui berkerabat dekat dengan tikus cucurut dalam analisis yang dilakukan. Penemuan genus dan spesies baru ini menambah keanekaragaman jenis tikus cucurut di Sulawesi yang telah diketahui menjadi 6 genera dan 8 spesies. Besarnya perbedaan morfologi di antara spesies-spesies tersebut merupakan sesuatu yang luar biasa mengingat sedikitnya jumlah spesies yang telah diketahui saat ini.

Key words:
  • biodiversity
  • Murinae
  • new genus
  • new species
  • shrew rat
  • Wallacea
View Full Text

Sign in

Log in through your institution

Sign in as a personal subscriber

Log in through your institution

Purchase a personal subscription